Perjalanan Saya Membangun Bisnis Pengumpulan, Pengemasan, dan Pelabelan Telur Konsumsi
Daftar Isi
- 1. Awal Mula dan Latar Belakang
- 2. Mengenal Potensi Bisnis Telur Konsumsi
- 3. Membangun Sistem Pengumpulan dan Kemitraan
- 4. Standarisasi Pengemasan, Pelabelan, dan Legalitas
- 5. Strategi Penjualan untuk B2G, B2B, dan B2C
- 6. Perhitungan HPP, Margin, dan Titik Impas
- 7. Analisis Kelayakan Finansial
- 8. Strategi Pemasaran Digital dan Branding Produk
- 9. Tantangan Lapangan dan Solusi
- 10. Proyeksi Pertumbuhan Tiga Tahun Ke Depan
- 11. Penutup dan Refleksi Pribadi
1. Awal Mula dan Latar Belakang
Saya memulai bisnis ini dengan modal sederhana dan niat besar untuk memutus rantai panjang ketergantungan peternak terhadap tengkulak. Saya berasal dari keluarga peternak ayam petelur di wilayah Jawa Tengah, dan setiap hari menyaksikan betapa sulitnya menjaga stabilitas harga jual telur, terutama saat musim panen raya.
Dari pengamatan saya, masalah utama peternak bukan pada produksi, tapi pada distribusi. Telur biasanya dijual curah tanpa label, tanpa sortasi, dan tanpa kemasan higienis. Padahal, permintaan pasar modern dan lembaga pemerintah mengharuskan produk memiliki label resmi serta standar kebersihan tertentu.
Dari situ saya melihat celah bisnis yang bisa menguntungkan semua pihak: peternak mendapatkan harga lebih baik, pemerintah memperoleh suplai yang terjamin, dan konsumen bisa membeli telur higienis dengan informasi label yang jelas.
“Bagi saya, bisnis ini bukan sekadar jual telur, tapi tentang membangun sistem yang adil dan profesional antara peternak dan pasar.”
2. Mengenal Potensi Bisnis Telur Konsumsi
Telur konsumsi merupakan bahan pangan utama masyarakat Indonesia. Berdasarkan data BPS, rata-rata konsumsi telur mencapai lebih dari 21 kg per kapita per tahun. Artinya, potensi pasar domestik sangat besar dan terus bertumbuh seiring peningkatan kesadaran gizi dan pertumbuhan penduduk.
Selain itu, pemerintah secara rutin melakukan pengadaan telur untuk berbagai program seperti bantuan sosial, konsumsi ASN, dapur umum, hingga kegiatan pelatihan dan pendidikan. Dari sinilah saya mulai menargetkan tiga segmen besar penjualan:
- B2G (Business to Government): Pengadaan telur konsumsi untuk instansi pemerintah.
- B2B (Business to Business): Pemasok telur untuk hotel, restoran, katering, dan toko.
- B2C (Business to Consumer): Penjualan langsung ke konsumen melalui toko dan platform digital.
3. Membangun Sistem Pengumpulan dan Kemitraan
Saya memulai dengan menggandeng tiga peternak lokal sebagai mitra tetap. Awalnya, saya datang langsung ke kandang setiap dua hari untuk menyeleksi telur berdasarkan ukuran dan kebersihan. Proses ini saya catat secara manual hingga akhirnya menggunakan aplikasi Excel sederhana untuk pencatatan volume dan kualitas.
| Komponen | Penjelasan |
|---|---|
| Sumber Pasokan | 7 peternak mitra tetap |
| Volume Harian | ±1.500 butir |
| Sistem Pembayaran | 50% di muka, 50% setelah laku terjual |
| Frekuensi Pengambilan | Setiap 2 hari sekali |
| Transportasi | Mobil box berpendingin ringan |
Kepercayaan peternak menjadi kunci utama. Saya memastikan pembayaran tepat waktu, laporan jumlah dan kualitas dibuat transparan. Dalam 6 bulan, jumlah peternak mitra saya meningkat menjadi 10 orang dengan total suplai harian mencapai lebih dari 3.000 butir.
4. Standarisasi Pengemasan, Pelabelan, dan Legalitas
Salah satu langkah penting yang saya lakukan adalah mengubah cara pandang terhadap telur. Saya berhenti menjual telur curah dan mulai menjual produk yang “bercerita” melalui label dan kemasan. Saya memutuskan membuat merek sendiri: “Telur Sehat Nusantara”.
Proses yang saya lakukan meliputi:
- Membeli mesin grading dan stamping sederhana untuk memilah telur berdasarkan ukuran (S, M, L).
- Menggunakan kemasan blister plastik isi 6, 10, dan 15 butir untuk segmen ritel.
- Mendaftarkan izin PIRT dan merek dagang ke DJKI.
- Mencantumkan tanggal kemasan, berat bersih, dan nomor batch produksi pada setiap label.
Dengan langkah tersebut, saya mulai diterima oleh supermarket lokal dan beberapa dinas yang membutuhkan produk bersertifikat. Dari situ saya belajar bahwa legalitas dan penampilan produk adalah pintu masuk ke pasar yang lebih luas.
5. Strategi Penjualan untuk B2G, B2B, dan B2C
B2G (Business to Government)
Untuk masuk ke segmen ini, saya mengikuti pelatihan LPSE dan memahami proses e-katalog lokal. Fokus saya adalah memastikan dokumen legal lengkap, termasuk NPWP, SIUP, dan sertifikat halal. Setiap kontrak pengadaan rata-rata mencakup 2 ton telur per bulan dengan harga jual Rp27.000/kg.
B2B (Business to Business)
Segmen B2B saya layani dengan sistem kontrak jangka menengah (3–6 bulan). Pelanggan saya terdiri dari rumah makan, hotel, dan toko bahan pokok. Keunggulan saya adalah konsistensi pasokan dan layanan antar tepat waktu.
B2C (Business to Consumer)
Saya menjual telur melalui toko kecil di pasar lokal dan marketplace seperti Shopee dan Tokopedia. Untuk segmen ini, kemasan menjadi kunci. Saya menyediakan pilihan 6 butir dan 10 butir dengan desain label menarik dan informasi gizi yang jelas.
6. Perhitungan HPP, Margin, dan Titik Impas
Biaya Produksi per Kilogram (±16 butir)
| Komponen | Biaya (Rp) |
|---|---|
| Harga beli dari peternak | 25.000 |
| Transportasi dan sortasi | 500 |
| Kemasan blister & label | 700 |
| Tenaga kerja & administrasi | 300 |
| Penyusutan alat & utilitas | 200 |
| Total HPP per kg | 26.700 |
Harga Jual dan Margin
| Segmen | Harga Jual/kg | Laba Kotor/kg | Margin (%) |
|---|---|---|---|
| B2G | 27.500 | 800 | 3,0% |
| B2B | 28.000 | 1.300 | 4,9% |
| B2C | 30.000 | 3.300 | 12,4% |
Dengan rata-rata penjualan bulanan 4.500 kg, total laba kotor mencapai Rp6,85 juta. Setelah dikurangi biaya operasional, laba bersih berada di kisaran Rp5 juta hingga Rp7 juta per bulan.
7. Analisis Kelayakan Finansial
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Modal Awal | Rp75.000.000 (alat, izin, kemasan, kendaraan) |
| Omzet Bulanan | Rp125.000.000 |
| Laba Bersih Bulanan | Rp6.000.000 – Rp9.000.000 |
| BEP (Break Even Point) | 7–8 bulan |
| ROI Tahun Pertama | ±115% |
| Kelayakan Usaha | Sangat Layak |
Dengan perputaran cepat, risiko rendah, dan permintaan stabil, usaha ini sangat layak dikembangkan. Keuntungan lain adalah fleksibilitas pasar: jika permintaan B2G menurun, segmen B2C masih bisa menopang arus kas.
8. Strategi Pemasaran Digital dan Branding Produk
Dalam era digital, saya tidak ingin bergantung sepenuhnya pada penjualan offline. Saya membangun identitas digital merek “Telur Sehat Nusantara” melalui:
- Website bisnis yang berisi profil usaha, foto produksi, dan daftar produk.
- Media sosial (Instagram dan TikTok) untuk menampilkan proses produksi dan testimoni pelanggan.
- Marketplace official store untuk menjangkau konsumen langsung di berbagai kota.
- Kampanye edukasi gizi telur melalui konten blog dan video pendek.
Saya juga memanfaatkan Google My Business agar lokasi gudang mudah ditemukan. Dari strategi ini, penjualan B2C meningkat 27% dalam tiga bulan pertama.
9. Tantangan Lapangan dan Solusi
- Fluktuasi harga di peternak → Membuat kontrak harga bulanan dengan mitra.
- Telur pecah saat distribusi → Beralih ke tray plastik dan pelatihan pengepakan.
- Administrasi pengadaan rumit → Konsultasi dengan LPSE dan mengikuti pelatihan pengadaan.
- Persaingan harga di marketplace → Fokus pada diferensiasi kualitas, bukan diskon ekstrem.
- Keterbatasan modal ekspansi → Mencari mitra investor lokal berbasis bagi hasil.
10. Proyeksi Pertumbuhan Tiga Tahun Ke Depan
| Tahun | Target Volume (kg/bulan) | Estimasi Omzet (Rp) | Estimasi Laba Bersih (Rp) |
|---|---|---|---|
| 2025 | 4.500 | 125.000.000 | 7.000.000 |
| 2026 | 7.000 | 190.000.000 | 12.000.000 |
| 2027 | 10.000 | 280.000.000 | 20.000.000 |
Pada tahun ketiga, saya menargetkan ekspansi ke produk turunan seperti telur asin modern dan telur cair pasteurisasi (liquid egg) untuk industri bakery. Kedua produk ini memiliki margin lebih tinggi dan stabilitas harga yang lebih baik dibanding telur mentah.
11. Penutup dan Refleksi Pribadi
Bagi saya, bisnis telur konsumsi bukan hanya tentang perhitungan laba, tetapi tentang menjaga hubungan dan kualitas. Dari peternak yang saya bantu hingga konsumen yang percaya, semuanya terhubung dalam satu rantai nilai.
Saya percaya, selama saya menjaga kejujuran dan konsistensi, bisnis ini akan terus tumbuh. Setiap butir telur yang keluar dari gudang saya bukan hanya produk — itu adalah hasil kerja keras, integritas, dan komitmen untuk memberikan yang terbaik.
“Bisnis ini bukan sekadar mencari untung, tetapi tentang menanam kepercayaan dan membangun keberlanjutan pangan lokal.”

Gabung dalam percakapan