Video

Perjalanan Saya Membangun Brand Kaos dan Menjualnya Secara Online

Daftar Isi

1. Awal Mula Ide Membuat Brand Kaos 

Semua bermula dari hal sederhana: kecintaan saya terhadap desain dan fashion kasual. Saya sering merasa sulit menemukan kaos lokal yang memiliki karakter kuat namun tetap nyaman dipakai. Sebagian brand besar terlalu mahal, sementara brand kecil cenderung meniru gaya luar negeri tanpa jati diri.

Saya berpikir, “Kenapa tidak coba bikin sendiri?”
Itulah titik awal perjalanan saya membangun sebuah brand kaos. Awalnya bukan karena ingin kaya, tapi karena ingin membuat sesuatu yang benar-benar mencerminkan gaya hidup saya dan orang-orang di sekitar saya.

Saya mulai dengan riset pasar kecil-kecilan. Melalui TikTok dan Shopee, saya melihat banyak brand baru bermunculan setiap bulan, tapi hanya sebagian kecil yang bisa bertahan lebih dari setahun. Dari situ saya belajar: bukan hanya soal desain, tapi soal cerita dan koneksi emosional antara produk dan pembeli.


  2. Langkah Pertama: Menemukan Identitas Brand 

Saya sadar, membuat kaos bukan sekadar mencetak desain di bahan cotton combed. Tantangan utamanya adalah membangun identitas brand — bagaimana orang mengenal dan merasakan sesuatu ketika melihat logo atau desain saya.

Langkah-langkah awal saya:

  • Menentukan visi brand:
    Saya ingin brand ini merepresentasikan keberanian berekspresi dan gaya hidup mandiri.

  • Menentukan target pasar:
    Usia 17–30 tahun, laki-laki dan perempuan, aktif di media sosial, dan sering membeli fashion lokal secara online.

  • Menentukan tone komunikasi:
    Tidak formal, tapi tetap berkarakter. Bahasa yang digunakan di konten dan deskripsi produk dibuat akrab, seperti teman ngobrol.

  • Membangun logo dan desain awal:
    Saya tidak menyewa desainer mahal. Cukup menggunakan Canva dan Adobe Illustrator, sambil belajar tentang elemen visual yang minimalis tapi mudah diingat.

Dalam dua minggu pertama, saya sudah punya tiga desain kaos: satu bertema motivasi, satu bergaya humor ringan, dan satu dengan visual abstrak. Semua dibuat dengan ciri khas warna netral agar mudah dipadukan.


  3. Membangun Produk: Dari Konsep ke Produksi 

Setelah konsep desain siap, saya mulai masuk ke tahap paling krusial: produksi dan kualitas bahan.

Saya melakukan survei ke beberapa konveksi lokal. Dari situ saya belajar bahwa harga bahan dan kualitas sablon sangat memengaruhi persepsi pembeli. Saya memilih bahan cotton combed 30s — lembut, adem, dan punya tampilan halus yang cocok untuk printing DTG (Direct to Garment).

Langkah produksi awal saya:

  1. Riset supplier bahan kaos:
    Saya menemukan satu pemasok di Bandung yang bisa menyediakan bahan dengan harga kompetitif dan menerima pesanan 20 pcs pertama.

  2. Mencari tempat sablon:
    Saya pilih vendor sablon DTG karena fleksibel untuk produksi kecil. Walaupun sedikit lebih mahal, tapi hasilnya tajam dan bisa full color.

  3. Membuat sampel produk:
    Dari 3 desain awal, saya produksi masing-masing 5 pcs untuk foto produk dan promosi di media sosial.

  4. Foto produk:
    Saya menggunakan smartphone dengan pencahayaan alami, lalu edit ringan di Lightroom Mobile agar tampil profesional di Shopee dan TikTok.


  4. Strategi Penjualan Online: Fokus pada TikTok dan Shopee 

Ketika produk sudah siap, saya sadar: produk bagus tidak akan laku kalau tidak dilihat orang.
Karena itu, saya memilih dua platform utama — TikTok Shop dan Shopee — untuk memulai perjalanan jualan online.

A. TikTok Shop

Saya memanfaatkan kekuatan video pendek. Konten seperti:

  • “Behind the scenes” proses pembuatan kaos

  • Video packing order

  • Gaya mix-and-match outfit

  • Cerita lucu di balik desain

Saya belajar bahwa video dengan durasi 10–15 detik dan hook kuat di 3 detik pertama bisa mendatangkan ribuan penonton. Tidak jarang, dari satu video viral, saya bisa menjual lebih dari 20 kaos dalam sehari.

TikTok memberi kesempatan untuk membangun branding yang hidup. Pembeli merasa dekat karena melihat sisi manusia di balik produk.

B. Shopee

Shopee saya gunakan untuk membangun kepercayaan dan sistem order. Semua pembeli dari TikTok diarahkan ke Shopee agar transaksi aman dan bisa dikelola.

Saya optimalkan:

  • Foto produk minimalis dengan latar polos

  • Judul produk SEO-friendly: “Kaos Oversized Unisex Premium Cotton Combed 30s – Desain Kekinian”

  • Deskripsi detail ukuran, bahan, dan cara perawatan

  • Fitur gratis ongkir dan cashback

Kombinasi TikTok (untuk awareness) dan Shopee (untuk konversi) menjadi pondasi utama strategi saya.


  5. Perhitungan Bisnis: Modal, HPP, dan Margin Keuntungan 

Saya ingin tahu apakah bisnis ini benar-benar layak, bukan sekadar “jualan karena tren”. Karena itu, saya mulai membuat perhitungan bisnis sederhana.

A. Modal Awal

KomponenJumlahBiaya per unit (Rp)Total (Rp)
Produksi kaos (15 pcs)1565.000975.000
Desain & sablon DTG1525.000375.000
Foto produk & properti--150.000
Pengemasan (plastik, stiker, label)152.50037.500
Iklan TikTok pertama--250.000
Modal kerja awal (saldo Shopee, stok tambahan)--300.000
Total Modal Awal2.087.500

B. Harga Pokok Produksi (HPP)

HPP = Total biaya produksi / Jumlah produk
HPP = Rp1.387.500 / 15 = Rp92.500 per kaos

C. Penetapan Harga Jual

Saya ingin margin minimal 40%.
Harga jual = HPP + (HPP × 40%)
= Rp92.500 + (Rp37.000)
= Rp129.500 → dibulatkan jadi Rp130.000 per kaos

D. Keuntungan Per Produk

Keuntungan kotor per kaos: Rp130.000 - Rp92.500 = Rp37.500
Kalau saya menjual 100 kaos per bulan:
= Rp37.500 × 100 = Rp3.750.000/bulan (kotor)


  6. Analisis Break Even Point (BEP) dan Proyeksi Laba 

Untuk memastikan bisnis ini bisa bertahan, saya menghitung Break Even Point (BEP).

Rumus:

BEP (unit) = Total Biaya Tetap / (Harga jual – Biaya variabel per unit)

Misal:

  • Biaya tetap (iklan, ongkir subsidi, alat promosi) = Rp1.000.000

  • Harga jual = Rp130.000

  • Biaya variabel (bahan + sablon + kemasan) = Rp92.500

Maka:
BEP = 1.000.000 / (130.000 – 92.500) = 27 unit

Artinya, saya harus menjual 27 kaos untuk menutup semua modal dan biaya operasional. Setelah melewati angka itu, seluruh penjualan menjadi keuntungan bersih.

Proyeksi Laba Bulanan (Skenario 3 Bulan Pertama)

BulanJumlah TerjualOmzetLaba Bersih (Estimasi)
130Rp3.900.000Rp675.000
270Rp9.100.000Rp2.000.000
3120Rp15.600.000Rp3.750.000

Saya tidak langsung mengejar angka besar, tapi fokus pada stabilitas cash flow dan konsistensi branding.


  7. Pemasaran Kreatif dan Bangun Komunitas Pembeli 

Bagi saya, pemasaran tidak hanya soal iklan. Pemasaran adalah cara kita membangun hubungan dengan orang yang punya kesamaan nilai.

Strategi yang saya jalankan:

  1. Konten cerita di TikTok:
    Saya sering menceritakan proses dibalik desain — misalnya “kenapa tulisan di kaos ini seperti itu.”
    Cerita personal membuat orang merasa punya keterlibatan emosional.

  2. Konsisten upload:
    Setidaknya 1–2 video per hari. Beberapa hanya behind-the-scenes, tapi tetap membangun engagement.

  3. Mengajak pembeli jadi model:
    Saya kirim pesan ke pembeli yang puas dan minta izin repost foto mereka. Hasilnya luar biasa: orang lain lebih percaya saat melihat pembeli nyata memakainya.

  4. Gunakan fitur TikTok Affiliate:
    Saya membuka sistem komisi kecil bagi kreator yang ingin mempromosikan produk. Dengan itu, jangkauan meningkat tanpa harus iklan terus-menerus.

  5. Promo tematik di Shopee:
    Setiap tanggal kembar (9.9, 10.10, dll), saya siapkan diskon khusus agar tetap muncul di pencarian utama.

  6. Bangun komunitas:
    Saya mulai membuat grup kecil di Telegram untuk pelanggan loyal. Di sana saya bagikan bocoran desain baru dan diskon eksklusif. Komunitas ini menjadi kekuatan promosi paling otentik.


  8. Tantangan yang Saya Hadapi di Lapangan 

Perjalanan membangun brand kaos tidak selalu mulus. Saya pernah hampir menyerah karena beberapa hal berikut:

  • Penjualan stagnan di awal.
    Meskipun konten TikTok ramai, tidak semua penonton langsung membeli. Saya belajar pentingnya call to action dan penawaran menarik.

  • Masalah stok dan ukuran.
    Kadang ukuran tertentu habis, tapi permintaan masih tinggi. Akhirnya saya menerapkan sistem pre-order agar tidak kelebihan produksi.

  • Persaingan harga di Shopee.
    Banyak toko menjual kaos dengan harga sangat murah. Saya tidak ikut banting harga, melainkan fokus ke nilai: bahan premium, desain eksklusif, dan pengalaman belanja menyenangkan.

  • Keterbatasan waktu dan tenaga.
    Karena semua dikerjakan sendiri, dari produksi, foto, hingga kirim pesanan, saya harus pandai mengatur waktu.

Namun, semua tantangan itu justru membuat saya lebih disiplin dan matang dalam berpikir bisnis.


  9. Pelajaran dan Kesimpulan dari Pengalaman Ini

Dari perjalanan ini, saya menyadari bahwa membangun brand bukan soal modal besar, tapi konsistensi dan kejelasan arah.
Berikut beberapa pelajaran penting yang saya dapat:

  1. Mulai dari kecil tapi serius.
    Produksi 10–20 pcs pertama bisa jadi langkah awal yang realistis untuk menguji pasar.

  2. Gunakan kekuatan cerita.
    Orang tidak hanya membeli produk, tapi juga nilai dan cerita di baliknya.

  3. Kuasai satu platform dulu.
    Fokus ke TikTok dulu sebelum melebarkan ke Shopee membuat saya lebih efisien dan hemat biaya.

  4. Pantau angka dan hitung realistis.
    Jangan hanya fokus ke viralitas, tapi pastikan HPP dan margin jelas agar bisnis tetap sehat.

  5. Bangun hubungan dengan pelanggan.
    Respon cepat dan ramah akan membuat pembeli kembali tanpa harus diskon terus-menerus.

Kini, setelah beberapa bulan berjalan, brand kaos saya mulai memiliki pengikut tetap di TikTok dan penjualan stabil di Shopee.
Saya belum bisa menyebut diri “sukses besar”, tapi saya bangga karena brand ini tumbuh dari niat tulus, kerja keras, dan kepercayaan pada proses.

Dan yang paling penting, saya belajar bahwa setiap kaos yang terjual bukan hanya produk, tapi hasil perjalanan penuh makna.